بِــــــسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيـــمِ
SELAMAT DATANG DI BLOG ZARMI PICANCANG - TERIMAKASIH ATAS KUNJUNGAN ANDA ANDA

JANGAN LUPA

ISTIGHFAR DAN SALAWAT NABI SETIAP HARI

PILIH MENU

.

Radio Online Minang Cimbuak                Radio Online Minang Cimbuak

Rabu, 18 Februari 2015

Validitas dan Reliabilitas dalam Penelitian Kualitatif



Validitas dan Reliabilitas dalam Penelitian Kualitatif

 

Validitas dan Reliabilitas dalam Penelitian Kualitatif


Saya menuliskan tentang validitas dan reliabilitas dalam penelitian kualitatif setelah seharian kemaren membaca ulang buku-buku kualitatif.  Penelitian kualitatif tentu berbeda dengan penelitian kuantitatif. Namun kemunculan kuantitatif lebih dahulu maka para kuantitatifer minded akan mempertanyakan bagaiamana keabsahan penelitian kualitatif, dengan sudut padang penelitian yang telah diketahuinya.
Melekat dengan penelitian kuantitatif adalah istilah validitas dan reliabilitas.

Validitas mempertanyakan apakah penelitian telah mengukur apa yang mesti diukur.  Cara-cara pengukuran validitas pun beragam baik secara konten maupun empiris. Secara konten alat yang akan digunakan dalam mengukur  memiliki  keabsahan secara logis, dan keterbacaan (face validity). Artinya peneliti membaca betul apa yang akan diukur, bagaimaa indikator dan butirnya, dan apakah butir yang dibuat telah mencerminkan indikator sesungguhnya. Begitu pula apakah indikator sudah merupakan cerminan dari variabel yang hendak diteliti.

Validitas secara empiris dilakukan setelah melakukan validitas logis dan face validity. Sebelum membagikan kepada sampel serupa sebagai ujicoba instrumen. Alat pengumul data juga lebih bagus jika dapat dikonsultasikan dengan pakar (expert judgment) paling tidak ada 5 pakar yang menilai alat yang akan dijadikan pengumpul data. Setelah menganalisis masukan penilai dengan menggunakan analisis statistik interrater, maka dapat dilihat kualitas alat  tersebut.

Melakukan tahap ujicoba alat kepada sampel serupa, kemudian dianalisis untuk menentukan indeks validitas dan reliabilitas alat tersebut. Reliabilitas adaah konsistesi alat yang digunakan. Artinya tingkan keajegan alat tersebut memiliki angka yang cukup reliable. Penghitungan ini dapat dilakukan dengan beragama cara penghitungan validitas dan reliabilitas. Kurang lebih terdapat 16 cara menghitung valisitas dan reliabilitas.
Peneliti kuantiatif  memiliki kerja ekstra memfixkan proposal dan instrument sebelum turun ke lapangan. Berbeda dengan penelitian kualitatif. Alat dan instrument  bukan merupakan panduan yang ketat dan kaku.  Jadi boleh saja langsung ke lapangan dengan proposal penelitian yang ada, dan tidak mustahil diperjalanan ada perubahan dari apa yang sudah direncanakan.

Penelitian kualitatif tidak mengenal istilah validitas dan reliabilitas. Namun hakekat bahwa penelitin itu mesti benar, dapat dipercaya,  dan objektif  tentu dipegang sebagai kekuatan penelitian. Namun istilah dan cara-cara yang digunakan berbeda dengan penelitian kuantitatif. Dalam penelitian kualitatif,  menurut Guba dan Licoln, dikutip Trochim (2006) terdapat istilah credibility, transferability, dependability dan confirmability.  Credibility  mengukur apakah hasil penelitian dari berbagai perspektif subyek dapat dipercaya. Padananan dalam penelitian kuantitatif adalah internal validity. Sedangkan transferability adalah berkaitan dengan hasil penelitian dapat ditranfer atau digunanakan pada konteks lain atau konteks yang lebih spesifik.  Dalam penelitian kuantitatif  dikenal dengan generalability, istilah  external validity.
Adapun dependability  berakaitan dengan apakah  hasil penlitian dapat diulangi lagi. sebenarnya ide dependability menurut Trochim (2006) adalah  menekankan kepada peneliti untuk melaporkan konteks setiap perubahan yang yang terdapat dalam penelitian. Peneliti bertanggung jawab untuk menggambarkan bagaimana perubahan yang ada dalam setting penelitian.  Ini dipadankan dengan reliabilitas dalam penelitian kuantitatif. Confirmability adalah bagaimana hasil penelitian itu dapat dibenarkan oleh yang lain. artinya apa yang ditemukan, dituliskan dan dilaporkan sesuai dan dapat dibenarkan. Ini dipandankan dengan objectivity dalam penelitian kuantittaif.
untuk memenuhi kriteria keabsahan data dalam penelitian kualitatif tersebut di atas yaitu credibility, transferability, dependability dan confirmability digunakan cara tertentu. Creswell  (1998) dikutip Tauro (2011)  menggunakan triangulation, member check, and rich, thick description”.  Triangulasi adalah mengunakan beragam  sumber,  dan teknik yang dugunakan dalam pengumpulan data. “multiple sources, methods and time for collecting data”.

Beragam sumber dalam mengumpulkan data misalnya, menanyakan kebiasaan belajar  siswa, tidak hanya bertanya kepada  siswa tetapi juga bisa bertanya seperti kepada guru, teman,  dan orangtua. Metode pegumpul data yang beragam digunakan seperti tidak hanya cukup dengan wawancara tetapi juga bisa seperti obeservasi, pertanyaan tertulis, dokumentasi, dan kelompok fokus.  Triangulasi menguatkan dependability dan credibility penelitian kualitatif.

Member check yaitu diskusi peneliti dengan melibatkan orang yang terkait dengan penelitian dalam hal data yang dikumpulkan, untuk mengecek apakah interpretasi dapat diterima. Member chek mendukung keabsahan data dalam credibility.  Dan terakhir yaitu rich, thick description merupakan catatan yang detail dan tebal  yang mengambarkan setting dan apa yang diteliti. Ini untuk mendukung bahwa penelitian kualitatif dapat ditranfer atau digunakan dalam koteks lain, transferability.

Penelitin kualitatif yng bersifat interpretif tentu berbeda dengan paradigma positivistik. Kecenderungan bidang  yang diteliti juga berbeda. Namun sesungguhnya bidang apa saja bisa mengunkan penelitian baik kuantitatif maupun kualitatif tergantung tujuannya apa. Kalau menguji hiptesis, dengan melihat hubungan, maupun sebab akibat tentu cocoknya menggunakan penelitian kuantitaif. Tetapi jika ingin melihat sebuah fenomena secara mendalam tepat jika menggunakan metode penelitian kualitatif.

Keabsahan data dan cara pengumpulan data sangat penting baik dalam penelitian kuantitatif maupun kualitatif. Sebenarnya tidak perlu mempadan-padankan indicator keabsahan penelitian kuantitaif dan kualitatif. Karena keduanya bukan sesuatu yang sama, tetapi memiliki prinsip yang sama dalam sebuah penelitian yaitu menjamin keabsahan data.  Tidak perlu pula merendahkan dan mengunggulkan satu dan lainya dalam metode penelitian tersebut karena keduanya telah berjasa dalam mengembangkan ilmu pengetauan di dunia ini.