بِــــــسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيـــمِ
SELAMAT DATANG DI BLOG ZARMI PICANCANG - TERIMAKASIH ATAS KUNJUNGAN ANDA ANDA

JANGAN LUPA

ISTIGHFAR DAN SALAWAT NABI SETIAP HARI

PILIH MENU

.

Radio Online Minang Cimbuak                Radio Online Minang Cimbuak

Senin, 30 Maret 2015

BAB II - PROSES PENELITIAN



PROSES PENELITIAN, MASALAH, VARIABEL, DAN PARADIGMA PENELITIAN



A.  Proses Penelitian Kuantitatif

            Dalam penelitian kuantitatif, masalah yang dibawa peneliti harus sudah jelas, sedangkan masalah dalam penelitian kualitatif masih bersifat sementara dan akan berkembang setelah peneliti memasuki lapangan. Berikut adalah langkah-langkah dalam melakukan penelitian :
            Mengidentifikasi masalah kemudian dibatasi, dan selanjutnya masalah tersebut dirumuskan. Rumusan masalah pada umumnya dinyatakan dalam kalimat pertanyaan. Berdasarkan rumusan masalah tersebut, maka peneliti menggunakan berbagai teori untuk menjawabnya. Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah tersebut, selanjutnya akan dibuktikan kebenarannya secara empiris berdasarkan data dari lapangan. Untuk ini peneliti melakukan pengumpulan data. Pengumpulan data dilakukan pada populasi tertentu yang telah ditetapkan. Bila populasi terlalu luas dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi tersebut.
            Meneliti adalah mencari data yang teliti dan akurat. Untuk itu peneliti melakukan instrument penelitian. Instrumen untuk pengumpulan data dapat berbentuk test dan nontest (kuesioner, observasi, dan wawancara).  Data yang telah terkumpul selanjutnya dianalisis. Analisis diarahkan untuk menjawab rumusan masalah dan hipotesis yang diajukan. Dalam penelitian kuantitatif analisis data menggunakan statistik. Statistik yang digunakan dapat berupa statistik deskriptif dan inferensial.
             Data hasil analisis selanjutnya disajikan dan diberikan pembahasan. Penyajian data dapat menggunakan tabel, tabel distribusi, frekuensi, grafik garis, grafik batang, diagram lingkaran, dll.  Setelah penelitian diberikan pembahasan, selanjutnya dapat disimpulkan. Kesimpulan berisi jawaban singkat terhadap setiap rumusan masalah berdasarkan data yang telah terkumpul. Kesimpulan harus sesuai banyaknya masalah yang dirumuskan sebelumnya. Lalu terakhir peneliti berkewajiban memberikan saran atas masalah yang telah dipecahkannya. Saran yang diberikan harus berdasarkan kesimpulan hasil penelitian.


B.  Masalah

1.        Masalah dan Cara Pemecahannya

Seperti yang telah dikemukakan bahwa pada dasarnya penelitian itu dilakukan guna mendapatkan data yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah. Setiap penelitian yang akan dilakukan selalu berawal dari masalah. Walaupun diakui bahwa memilih masalah penelitian sering merupakan hal yang paling sulit dalam proses penelitian (Tuckman, 1988:25). Bila dalam meneliti telah dapat menemukan masalah yang betul-betul masalah, maka pekerjaan penelitian 50% telah selesai.


HUBUNGAN ANTARA KETEPATAN MEMILIH MASALAH DAN CARA PEMECAHANNYA

Ketepatan Masalah
Ketepatan Cara Pemecahan
Masalah benar
Masalah benar
Masalah salah
Masalah salah
Cara pemecahan benar
Cara pemecahan salah
Cara pemecahan benar
Cara pemecahan salah



2.  Sumber Masalah

            Masalah dapat diartikan sebagai penyimpangan antara yang seharusnya dengan apa yang benar-benar terjadi. Stonner (1982 : 257) mengemukakan bahwa masalah-masalah dapat diketahui bila terdapat hal-hal berikut :
a           Terdapatnya penyimpangan antara pengalaman dengan pernyataan. Contoh: Orang yang biasanya menjadi pemimpin pada bidang pemerintahan harus pindah ke bidang bisnis.
b          Terdapat penyimpangan terhadap apa yang telah direncanakan dengan kenyataan.
Contoh: Sesuatu yang direncanakan akan mendapat keuntungan yang tinggi, tetapi kenyataannya tidak.
c           Ada pengaduan. Dalam suatu organisasi bisnis yang tadinya tenang tidak ada masalah ternyata setelah ada pihak tertentu yang mengadukan produk maupun layanan yang diberikan, maka akan timbul masalah dalam organisasi itu.
d          Ada kompetisi. Adanyanya saingan atau kompetisi sering dapat menimbulkan masalah besar, bila tidak dapat memanfaatkan untuk kerjasama. Misalnya semula hanya ada satu perusahaan yang menghasilkan suatu produk tertentu, ternyata muncul perusahaan yang lain yang memunculkan produk yang sama dengan merk yang berbeda.



3.  Rumusan Masalah yang Baik

            Freankel dan Wallen (1990 : 22) mengemukakan bahwa masalah penelitian yang baik adalah :
a           Masalah harus feasible, dalam arti masalah tersebut harus dapat dicari jawabannya melalui sumber yang jelas, tidak banyak menghabiskan dana, tenaga dan waktu.
b          Masalah harus jelas, yaitu semua orang memberikan presepsi yang sama terhadap masalah tersebut.
c           Masalah harus signifikan, dalam arti jawaban atas masalah itu harus memberikan kontribusi terhadap pengembangan ilmu dan pemecahan masalah kehidupan manusia.
d          Masalah bersifat etis, yaitu penelitian tidak berkenaan tentang hal-hal yang bersifat etika, moral, nilai-nilai keyakinan, dan agama. (ini hanya berlaku untuk penelitian kuantitatif karena sulit mengukur).


4.        Bentuk- Bentuk Rumusan Masalah Penelitian

a          Rumusan Masalah Deskriptif

Adalah suatu rumusan masalah yang berkenaan dengan pertanyaan terhadap keberadaan variable mandiri, baik hanya pada satu variable atau lebih.
Penelitian Deskriptif merupakan penelitian yang populer dalam bidang bisnis (Emory, 1985).
Peneliti yang bermaksud mengetahui potensi pasar, kemampuan daya beli terhadap barang tertentu, kepuasan dan keloyalitas konsumen adalah contoh penelitian deskriptif.
b          Rumusan Masalah Komparatif
Adalah suatu pertanyaan penelitian yang bersifat membandingkan keberadaan satu variable atau lebih pada dua atau lebih sampel yang berbeda. Beberapa contoh rumusan masalahnya:
- Adakah kesamaan cara promosi antara perusahaan A dan B?
- Adakah perbedaan jumlah penjualan antara mobil sedan dan niaga?
- Adakah perbedaan kualitas manajemen antara Bank Swasta dan Bank Indonesia?
c           Rumusan Masalah Asosiatif
Adalu pertanyaan penelitian yang bersifat menanyakan hubungan antara dua variable atau lebih. Terdapat tiga bentuk hubungan yaitu:
I.         Hubungan Simetris
Adalah suatu hubungan antara dua variable atau lebih yang kebetulan munculnya bersamaan. Contoh: “Adakah hubungan antara banyaknya semut di pohon dengan tingkat manisnya buah?”.
II.      Hubungan Kausal
Adalah hubungan yang bersifat sebab akibat. Disini ada variable independen (variable yang mempengaruhi) dan dependen (dipengaruhi). Contoh: “Seberapa besar pengaruh tata ruang toko g terhadap jumlah penduduk?”

III.   Hubungan Interaktif/ Resiprocal/ Timbal Balik
Adalah hubungan yang saling mempengaruhi. Disini tidak diketahui mana variable independen dan dependennya. Contoh: “ Hubungan antara motivasi dan prestasi. Disini dapat dinyatakan motivasi saling mempengaruhi prestasi dan juga prestasi mempengaruhi motivasi”.

            Berdasarkan uraian diatas, maka bentuk-bentuk rumusan masalah dapat digambarkan sebagai berikut :







C.   Variabel Penelitian

1.        Pengertian

Variabel penelitian pada dasarnya adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut,kemudian ditarik kesimpulannya. Secara teoritis variabel dapat didefinisikan sebagai atribut seseorang, atau obyek, yang mempunyai “variasi” antara satu orang dengan yang lain atau satu obyek yang lain (Hatch dan Farhady, 1981).
Dinamakan variabel karena ada variasinya. Variabel yang tidak ada variasinya bukan dikatakan sebagai variabel. Untuk dapat bervariasi, maka penelitian harus didasarkan pada sekelompok sumber data atau obyek yang bervariasi.
Kerlinger (1973) menyatakan bahwa variabel adalah konstruk atau sifat yang akan dipelajari. Di bagian lain Kerlinger menyatakan bahwa variabel dapat dikatakan sebagai suatu sifat yang diambil dari suatu nilai yang berbeda (different values). Selanjutnya Kidder (1981) menyatakan bahwa variabel adalah suatu kualitas dimana peneliti mempelajari dan menarik kesimpulan darinya.
Berdasarkan pengertian diatas, maka dapat dirumuskan bahwa variabel penelitian adalah suatu atribut atau sifat atau nilai dari orang, obyek atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan ditarik kesimpulannya.

2.        Macam-macam Variabel
Menurut hubungan antara satu variabel dengan variabel yang lain maka macam-macam variabel dalam penelitian dapat dibedakan menjadi :
a.      Variabel Independen: sering disebut sebagai variabel stimulus,prediktor,actecedent.
Dalam bahasa Indonesia disebut sebagai variabel bebas. Variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen (terikat).
b.      Varibel Dependen: sering disebut sebagai variabel output,kriteria, konsekuen. Dalam bahasa Indonesia disebut sebagai variabel terikat. Variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanyavariabel bebas.
c.       Varibel Moderator: adalh variabel yang mempengaruhi (memperkuat atau memperlemah) hubungan antar variabel independen dan dependen. Variabel disebut juga sebagai varibel independen ke dua.
d.      Variabel intervening: adalah variabel yang secara teoritis mempengaruhi hubungan antara variabel independen dan dependen, tetapi tidak dapat diamati dan diukur. Variabel ini merupakan variabel penyela/antara yang terletak di antara veriabel independen dan dependen, sehingga variabel independen tidak langsung mempengaruhi berubahnya atau timbulnya variabel dependen.
e.       Varibal kontrol: adalh variabel yang dikendalikan atau dibuat konstan sehingga hubungan variabel indepanden terhadap dependen tidak dipengaruhi oleh faktor luar yang tidak diteliti. Variabel kontrol sering digunakan peneliti, bila akan melakukan penelitian yang bersifat membandingkan melalui penelitian eksperimen.

Untuk dapat menentukan kedudukan variabel independen, dan dependen, moderator, intervening atau variabel yang lain, harus dilihat konteksnya dengan dilandasi konsep teoritis yang mendasari maupun hasil dari pengamatan yang empiris di empat penelitian. Dalam penelitian kualitatif hubungan antara semua variabel tersebut akan diamati, karena penelitian kualitatif berasumsi bahwa gejala itu tidak dapat diklasifikasikan, tetapi merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan (holistic).




D. Paradigma Penelitian

Dalam penelitian kuantitatif/positivisik, yang dilandasi pada suatu asumsi bahwa suatu gejala itu dapat diklasifikasikan, dan hubungan gejala bersifat kausal (sebab akibat), maka peneliti dapat melakukan penelitian dengan memfokuskan kepada beberapa variabel saja. Pola hubungan antara variabel yang akan diteliti tersebut selanjutnya disebut sebagai paradigma penelitian atau model penelitian.
            Jadi paradigma penelitian dalam hal ini diartikan sebagai pola pikir yang menunjukan hubungan antara variabel yang akan diteliti yang sekaligus mencerminkan jenis dan jumlah rumusan masalah yang perlu dijawab melalui penelitian, teori yang digunakan untuk merumuskan hipotesis, jenis dan jumlah hipotesis, dan teknik analisis statistik yang akan digunakan. Berdasarkan hal ini maka bentuk-bentuk paradigma atau model penelitian kuantitatif  khususnya untuk penelitian survey seperti gambar berikut:
1.        Paradigma Sederhana
Paradigma penelitian ini terdiri atas satu variabel independen dnan dependen. Hal ini dapat digambarkan seperti gambar 2.7 berikut.


X=  Kualitas Alat                                            Y= Kualitas Barang Yang Dihasilkan


Berdasarkan paradigma tersebut, maka kita dapat menentukan:

a.       Jumlah rumusan masalah deskriptif ada dua, dan asosiatif ada satu yaitu:
1. Rumusan masalah deskriptif (dua)
a)      Bagaimana X ? (Kualitas alat)
b)      Bagaimana Y ? (Kualitas barang yang dihasilkan).
2. Rumusan masalah asosiatif/hubungan (satu)
a)      Bagaimanakah hubungan atau pengaruh kualitas alat dengan kualitas
barang yang dihasilkan
b.      Teori yang digunakan ada dua, yaitu teori tentang alat-lat kerja dan    tentang kualitas barang.
c.       Hipotesis yang dirumuskan ada dua macam hipotesis deskriptif dan hipotesis asosiatif (hipotesis deskriptif sering tidak dirumuskan).
1.      Dua Hipotesis Deskriptif
a)      Kualitas alat yang digunakan oleh lembaga tersebut telah mencapai 70% baik
b)      Kualitas yang dihasilkan oleh lembaga tersebut telah mencapai 99% dari yang diharapkan
2.      Hipotesis Asosiatif

Ada hubungan yang positif dan signifikan secara kualitas alat dengan kualitas barang yang dihasilkan. Hal ini berarti bila kualitas alat ditingkatkan, maka kualitas barang yang dihasilkan akan menjadi semakin tinggi (kata signifikan hanya digunakan apabila hasil uji hipotesis akan digeneralisasikan  ke populasi di mana sampel tersebut diambil)

d.  Teknik analisis Data
Berdasarkan rumusan masalah dan hipotesis tersebut, maka dapat dengan mudah ditentukan teknik statistik yang digunakan untuk analisisdata dan menguji hipotesis.
1)      pengujian hipotesis menggunakan t-test one sampel.
2)      Untuk hipotesis asosiatif, bila data kedua variabelberbentuk interval atau ratio, maka menggunakan teknik Statistik Kolerasi Product Moment (lihat pedoman umum memilih teknik statistik untuk pengujian hipotesis).

2.      Paradigma Sederhana Berurutan
Dalam paradigma ini terdapat lebih dari dua variabel, tetapi hubungannya masih sederhana. Paradigma sederhana, menunjukkan hubungan antara satu variabel independen dengan suatu variabel dependen secara berurutan.

3.      Paradigma Ganda dengan Dua Variabel Independen
                        Dalam paradigma ini terdapat dua variabel independen dan satu dependen. Dalam paradigma ini terdapat tiga rumusan masalah deskriptif dan empat rumusan masalah asosiatif.

4.      Paradigma Ganda dengan Tiga Variabel Independen
                        Dalam paradigma ini terdapat tiga variabel independen (X1, X2, X3) dan satu dependen (Y). Rumusan masalah deskriptif ada empat dan rumusan masalah asosiatif (hubungan) untuk yang sederhna ada enam dan yang ganda minimal 

5.      Paradigma Ganda Sederhana dengan Dua Variabel Dependen
 Paradigma ganda dengan suatu variabel independen dan dua dependen. Untuk mencari besarnya hubungan antara X dan Y1, dan X dengan Y2 digunakan teknik kolerasi sederhana. Demikian juga untuk Y1 dengan Y2. Analisis regresi juga dapat digunakan disini.

6.      Paradigma Ganda dengan Dua Variabel Independen dan Dua Dependen
Dalam paradigma ini terdapat dua variabel independen (X1, X2) dan dua variabel dependen (Y1 dan Y2). Terdapat empat rumusan masalah deskriptif dan enam rumusan masalah hubungan sederhana. Kolerasi dan regresi ganda juga dapat digunakan untuk menganalisis hubungan antar variabel secara simultan.

7.      Paradigma Jalur
Paradigma jalur. Teknik analisis Statistik yang digunakan dinamakan path analysis (analisis jalur). Analisis dilakukan dengan menggunakan kolerasi, regresi dan jalur, sehingga dapat diketahui untuk sampai pada variabel dependen terakhir, harus lewat jalur langsung, atau melalui variabel intervening. Dalam paradigma itu terdapat empat rumusan masalah deskriptif, dan enam rumusan masalah hubungan jalur.

E.  Menemukan Masalah

Pada dasarnya setiap orang memiliki masalah, bahkan orang yang tidak mempunyai masalah akan di masalahkan oleh orang lain. Mungkin hanya orang yang tidak waras yang tidak mempunyai masalah. Untuk menemukan masalah bukanlah pekerjaan mudah, untuk menemukan masalah dapat di lakukan dengan cara melakukan analisis masalah, yaitu dengan pohon masalah. Dengan analisis masalah melalui pohon masalah ini, maka permasalahan dapat di ketahui mana masalah yang penting, yang kurang penting dan yang tidak penting. Melalui analisis masalah ini juga dapat di ketahui akar-akar permasalahannya.

Dalam melakukan analisis masalah pelayanan dapat di gunakan konsep pelayanan yang diberikan oleh Parasuraman, Zaithalm dan Berry (1990). dalam model ini di jelaskan ada 5 gap yang dapat menjadikan masalah sehingga dapat menimbulkan ke gagalan dalam penjualan jasa.Lima gap tersebut adalah :
1)      Kesenjangan antara harapan konsumen dengan persepsi manajemen (kesenjangan 1)
2)      Kesenjangan persepsi manajemen dengan kualitas jasa (kesenjangan2)
3)      Kesenjangan kualitas jasa dengan penyampaian jasa (kesenjangan 3)
4)      Kesenjangan penyampaian jasa dengan komunikasi eksternal (kesenjangan 4)
5)      Kesenjangan jasa yang di terima dengan yang dipersepsikan (kesenjangan 5)

Berbagai kesenjangan tersebut dapat terjadi disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut.

1).  Kesenjangan antara harapan konsumen dengan persepsi manajemen
Kesenjangan antara harapan konsumen dan persepsi manajemen timbul karena manajemen tidak selalu awas, tidak mengetahui sepenuhnya apa keinginan konsumen. Misalnya orang kebengkel mobil, tidak saja ingin mobilnya di rawat, diperbaiki yang benar, tetapi juga ingin jangka waktu perbaikan jangan terlalu lama, dan ia juga ingin mendapatkan petunjuk tentang pemeliharaan mobil. Inti masalahnya di sini ialah manajemen tidak mengetahui apa yang diharapkan konsumen.

2.  Kesenjangan persepsi manajemen dengan kualitas jasa ( Kesenjangan 2)
Manajemen sudah mengetahui keinginana konsumen, tetapi manajemen tak sanggup dan tak sepenuhnya melayani keinginan konsumen tersebut. Inti masalahnya adalah pihak manajemen kurang teliti terhadap detail jasa yang di tawarkan.

3.  Kesenjangan kualitas jasa dengan penyampaian jasa (Kesenjangan 3)
Kata kuncinya di sini adalah manajemen tidak sanggup menyampaikan jasa secara memuaskan kepada konsumen.

4.  Kesenjangan penyampaian jasa dengan komunitas eksternal (Kesenjangan 4)
Kesenjangan penyampaian jasa dengan komunikasi eksternal dapat terjadi akibat perbedaan antara jasa yang di berikan dan janji-janji yang di obral dalam iklan, brosur atau media promosi lainnya. Masalahnya disini adalah bahwa iklan atau promosi lainnya yang di komunikasikaan tidak sesuai dengan kenyataan.

5.  Kesenjangan jasa yang di terima dengan yang di persepsikan (Kesenjangan 5)
Kesenjangan jasa yang di alami atau di persepsi dengan jasa yang di harapkan merupakan gap yang sedang terjadi yaitu jasa yang di terima oleh konsumen, tidak sesuai yang mereka harapkan. Dia mengharapkan pelayanan yang baik, ternyata kenyataanya tidak.


“PERTANYAAN”
1)      Apakah yang dimaksud dengan masalah penelitian? Apakah ada perbedaan antara masalah penelitian dan masalah yang bukan penelitian?
2)      Jelaskan sumber-sumber yang dapat kita gunakan untuk memperoleh masalah penelitian?
3)      Mengapa penelitian kuantitatif menggunakan analisis statistik? Dan berikan contoh!
4)      Adakah hubungan antara variabel independen dan variabel dependen?
5)      Mengapa penelitian kuantitatif terfokus pada berbagai variabel?